Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Di Ujung Rotan Tak Ada Emas

Hati-hati memberi hukuman kepada anak dengan memukul atau melakukan kekerasan fisik. Perlakuan kasih sayang jauh lebih baik. 

MASIH ingat dengan pepatah ini, “di ujung rotan ada emas”? Itu adalah pepatah tua dari Indonesia timur. Maknanya kurang lebih, mendidik anak dengan cara menghukum menggunakan rotan akan berguna untuk anak itu di kemudian hari. 

Kedisiplinan bisa diajarkan dengan memukul anak menggunakan rotan. Biasanya, ini dipraktikan di sekolah-sekolah dan orang tua di rumah. Misalnya, bila ada siswa yang datang terlambat, maka guru akan memukulnya dengan rotan. Atau, ada siswa yang ketahuan nyontek, maka rotan mendarat di pantatnya. Di rumah pun demikian, kerap ada orang tua yang menggunakan rotan untuk mendidik anak yang malas.


 Tapi itu dulu. Kini hampir tidak ada sekolah yang menggunakan rotan untuk menghukum siswa. Bahkan istilah setrap (dari bahasa Belanda, straf, yang berarti hukuman) hampir tidak ada lagi. Anak sekolah yang disetrap di depan kelas dengan berdiri pada satu kaki sementara kaki lainnya terangkat dan tangan kanan memegang kuping kiri, nyaris tidak pernah lagi terdengar. 

Namun demikian, tak terdengar bukan berarti punah. Di negeri ini masih banyak orang tua yang mempraktikkan cara itu untuk mendidik anak-anak mereka. Ada yang memukul, ada yang menyekap di kamar mandi, ada juga yang memukul dengan ikat pinggang. Inilah yang disebut dengan corporal punishment. 

Seharusnya, menurut Kak Seto, cara seperti itu tidak lagi dipakai. Seiring dengan semakin terbukanya kesadaran dan pengetahuan mengenai pendidikan yang ideal dalam keluarga, seharusnya tidak ada lagi orang tua yang melakukan kekerasan fisik kepada anak mereka. Itulah mengapa, negara melarang melakukannya. Memukul anak atau melakukan kekerasan kepada anak kini tergolong sebagai tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga. 

Kak Seto adalah orang yang tak pernah bosan memberi pengertian kepada publik mengenai hal ini. Sebab, masih ada orang tua yang memiliki paradigma bahwa seolah-olah mendidik anak dengan kekerasan itu wajar dan sah-sah saja, bahkan harus, sebagai bagian dari disiplin.  

Dampak negatif 
Para ahli psikologi sependapat bahwa secara umum, mendidik anak dengan kekerasan tidak akan menghasilkan efek positif. Sebaliknya, menyebabkan anak memiliki masalah emosi dan perilaku, lebih agresif, dan selalu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. 

Anak yang sering mendapat pemukulan umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan menampilkan perilaku menyimpang di kemudian hari. Komnas Perlindungan Anak bahkan pernah mencatat ada anak 9 tahun yang dendam ingin membunuh ibunya karena pernah mendapat kekerasan. Mendidik anak tanpa kekerasan, justru sangat baik untuk perkembangan anak di masa depan. Selain lebih efektif untuk orang tua dalam menyampaikan pendidikan, juga lebih sehat untuk anak.  

Beberapa Dampak Kekerasan terhadap Anak
    1. Kekerasan fisik yang terus menerus dan lama akan menimbulkan cedera serius pada anak, meninggalkan bekas luka secara fisik, hingga menyebabkan meninggal dunia.
    2. Kekerasan dalam bentuk psikis, seperi orang tua memarahi anaknya akan menyebabkan anak meniru perilaku itu. Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.
    3. Jika anak ditelantarkan, maka anak akan mendapat perhatian dari orang tua. Anak akan memiliki perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, dan sulit menyesuaikan diri.
** Disarikan dari berbagai sumber

Bertengkar dengan Anak itu Bagus

Foto:blog.childrensdayton.org
 JANGAN sedih bila anak Anda selalu mendebat. Anak yang sering bertengkar dan selalu berargumentasi dengan orangtuanya ternyata jauh lebih baik dibandingkan dengan anak yang diam saja.   

Penelitian menunjukkan anak-anak yang sering bertengkar secara verbal dengan orang tuanya lebih mampu menghadapi tekanan dan cenderung menjauhi narkoba atau alkohol di usia dewasanya. Mereka juga akan menjadi negosiator ulung dan mengambil banyak pelajaran dari orang yang lebih dewasa. 


Penelitian itu dilakukan oleh ilmuwan dari Universitas Virginia, Amerika Serikat. Hasil penelitian ini menyarankan agar orang tua sering berbicara dengan anak-anak remajanya. Paling tidak, ini berguna untuk melatih kemampuan anak itu, meskipun risikonya harus marah-marahan dengan sang anak. 

Penelitian dilakukan terhadap 150 anak berusia 13 tahun saat mereka bertengkar dengan orang tuanya. Peneliti mengamati dan membuat rekaman audio maupun video pertengkaran itu. Tiga tahun kemudian, anak-anak itu diwawancarai mengenai kehidupannya dan pengalamannya dengan narkoba atau alkohol. Hasilnya, anak-anak yang memiliki kepercayaan diri dan suka berargumen dengan orang tuanya ternyata memiliki perilaku yang baik dan mereka tidak pernah bersinggungan dengan narkoba maupun alkohol.**

Cara Sehat Ajari Anak Berpuasa

SEJATINY, bagi ummat Islam, puasa bukanlah kewajiban yang harus dilakukan anak-anak, mengingat mereka belum memasuki fase akil baligh (usia pubertas).

Namun, mengajari anak berpuasa sejak dini membuat mereka kelak tidak berat menjalankan kewajiban tersebut ketika mereka dewasa kelak. Apalagi, berpuasa secara medis pun diakui banyak manfaatnya bagi kesehatan tubuh. Kapan dan bagaimana cara yang tepat mengajarkan sang buah hati berpuasa dan menanamkan esensinya? 

Menurut beberapa ahli, usia yang tepat untuk mulai mengajarkan anak berpuasa ialah empat tahun ketika kondisi kesehatan anak dinilai sudah mulai stabil. Namun para orang tua perlu memperhatikan asupan gizi anak, karena mereka masih dalam masa tumbuh kembang. 


Bila pada orang dewasa, nutrisi yang masuk ke dalam tubuh hanya digunakan untuk proses metabolisme tubuh, misalnya proses pencernaan, tidak demikian kondisinya pada anak-anak. Selain sebagai bahan bakar tubuh, zat makanan yang masuk juga untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Yang terpenting dalam mengajarkan anak berpuasa ialah bertahap sesuai dengan kemampuan mereka. 

Hindari memaksa mereka berpuasa sehari penuh sejak pagi buta (subuh) hingga petang (maghrib). Poin yang harus Anda ajarkan ialah bahwa mereka sedang belajar berpuasa. Sebaiknya Anda membuat jadwal kapan sebaiknya anak berpuasa. 

Anda bisa tentukan atau sesuaikan jam berpuasa, misalnya untuk si kakak yang lebih besar, diajarkan berpuasa setengah hari mulai setelah sahur (subuh) hingga jam makan siang, kemudian berpuasa lagi hingga waktu buka (maghrib) tiba. Adapun untuk sang adik yang lebih kecil, Anda bisa membagi jadwal belajar berpuasanya menjadi tiga tahap. Misalnya, adik boleh sahur tiga-empat kali, yakni pada waktu yang sebenarnya (dinihari menjelang subuh), sekitar pukul 09.00- 10.00, jam makan siang sekitar pukul 12.00, dan pukul 03.00, kemudian ikut berbuka bersama saat maghrib tiba. 

Peran orangtua juga penting dalam mengkomunikasikan makna puasa yang sebenarnya. Tanamkan pemahaman bahwa puasa bukan sekadar tidak makan dan minum, melainkan ada makna besar di balik semua itu, seperti wujud rasa syukur kepada Allah atas karunia-Nya.

Ingin Anak Hebat? Apresiasilah Mereka

COBALAH simak cerita berikut ini. Seorang bocah Indonesia baru pindah ke satu sekolah dasar di Amerika Serikat. Seorang guru di sekolah itu memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada para siswa, termasuk anak asal Indonesia itu. Guru itu menugaskan para siswa membuat karangan.

Tak dinyana, karangan berbahasa Inggris karya si anak yang masih minimal itu oleh sang guru diberi nilai E (excellence), sangat bagus atau sempurna. Padahal, karangan itu sebelumnya dimentahkan sang ayah di rumah. Tanpa memberikan penghargaan, si ayah malah meminta anaknya itu membuat karangan lagi. 

Ayah si anak itu merasa guru salah memberikan nilai. Dia tidak ingin nilai tersebut dapat membuat anaknya puas diri padahal karangannya menurut sang ayah jelek. Lalu si ayah memprotes guru atas nilai E yang diberikan kepada pada anaknya itu.

 Ibu guru yang menerima protes ayah tersebut bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” 
“Dari Indonesia,” jawab ayah si anak. 
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun menunjukkan empatinya. 
“Beberapa kali saya bertemu ayah ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan merangsang orang agar maju. Encouragement!” 

Dia melanjutkan argumentasinya. “Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan Bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya sambil menunjukkan karangan itu. 
 “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya lagi.

Memberikan apresiasi kepada anak-anak memang diperlukan. Itu bisa dimulai dari dalam rumah oleh orangtua dan orang-orang terdekat. Seorang anak harus merasa bahwa dia kebanggan sekaligus harapan orang tua, keluarga, guru, dan orang lain. Cara menanamkan perasaan seperti itu bisa dimulai dari hal kecil, seperti melibatkannya dalam pekerjaan rumah yang ringan, seperti menyapu, membuang sampah, dan membantu mengambilkan barang. Apapun hasil pekerjaannya, si anak harus dihargai dan diberi apresiasi. 

Banyak orangtua yang seringkali lalai menyelami perasaan anak. Banyak orang tua cenderung menggunakan sudut pandang mereka ketimbang memahami perasaan dan jalan pikiran anak. Tanpa sadar, kebanyakan orangtua yang mengklaim punya niat dan tujuan baik, malah seringkali berbicara yang sifatnya melarang dengan katakata yang membuat perasaan mereka terluka. Misalnya, ‘Pergi sana. Kamu masih kecil, jangan banyak bicara’. Atau sang kakak yang melarang adiknya bermain dengan kata-kata, “Kalau sudah sama umurnya, kamu boleh bermain dengan saya. Kalau sudah besar baru boleh bermain dengan saya”. 

Perlakuan yang tidak menunjukkan penghargaan terhadap anak dapat berakibat buruk bagi perkembangan mereka. Jangan heran bila kemudian si anak lebih menghargai lingkungan di luar rumah ketimbang orangtua, saudara atau kerabat mereka di rumah. Meski hanya senyuman, kata penyemangat atau hadiah sebatang coklat, hal itu cukup membuat anak-anak merasa berarti di hadapan orang tua, saudara, guru, dan rekanrekan mereka. 

Bisakah kita mencetak generasi hebat jika dari awal kita menciptakan hambatan dan rasa takut? Apa jadinya jika generasi mendatang ditempa dengan sejuta ancaman, sabetan gesper, pukulan rotan, atau lemparan penghapus oleh guru? Sekolah yang membuat siswa tidak nyaman dengan berbagai ancaman hukuman dan sederet kata “awas” mungkin telah membuat mereka menjadi lebih disiplin. Namun, di sisi lain bisa juga mematikan sisi humanis mereka untuk menghargai orang lain.

Ajari Anak Berkompetisi dan Menerima Kekalahan

DALAM sebuah pertandingan dan di sekolah, tidak ada satu pun tim atau orang yang ingin kalah dan menjadi nomor dua. Semuanya ingin menang. Situasi kalah dan menang itu tidak hanya terjadi di dalam pertandingan.

Dalam kehidupan nyata, kalah dan menang juga bisa terjadi. Menciptakan sebuah kompetisi yang sehat bagi anak memang harus diberikan di lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah.

Di sekolah, iklim belajar kompetitif akan efektif pada kelas-kelas yang homogen. Di kelas seperti itu, anak-anak yang berkompetisi harus memiliki kompetensi yang seimbang. Sebaliknya, iklim pembelajaran kompetitif di kelaskelas yang heterogen dengan kompetensi dan latar belakang kemampuan yang berbeda-beda, hanya akan menimbulkan persaingan tidak sehat. 

Kompetisi yang tidak sehat bukan saja tidak efektif dalam meningkatkan prestasi anak, melainkan juga dapat membuat ”sakit” kepribadian anak yang sehat. Ada empat iklim belajar kompetitif yang sehat untuk meningkatkan prestasi belajar di sekolah. Yakni, kompetisi antaranak yang berkemampuan seimbang, kompetisi antarkelompok yang memiliki kekuatan seimbang, kompetisi dengan KKM (kriteria ketuntasan minimal), dan kompetisi anak dengan diri mereka sendiri. 

Psikolog Kassandra A Putranto mengingatkan dalam setiap kompetisi ada yang menang dan kalah. Karena itu, belajar berkompetisi bukan hanya belajar menjadi juara melainkan juga latihan menerima kalah. "Anak butuh belajar menerima kekalahan. Yang terpenting bangkit dari kekalahan Itu. Kalau tidak pernah belajar menerima kekalahan, anak juga tidak pernah belajar bangkit dari kekalahan," kata Kassandra. 

Di dalam kehidupan sehari-hari, terkadang orang harus mengalami jatuh bangun. Seperti kisah heroik para atlet yang bangkit dari kekalahan lalu berlatih keras untuk meraih kemenangan. Itulah yang antara lain yang pernah terjadi pada juara tenis di Commonwealth 2010 Ana Ivanovic. 

Petenis asal Serbia itu pernah menjadi peringkat pertama putri dunia, lalu peringkatnya terus melorot dan sempat menghilang karena cedera. Namun dengan usahanya yang keras untuk sembuh dari cedera serta berlatih keras, gelar dunia pun kembali diraihnya. Termasuk di turnamen Commonwealth di Bali beberapa waktu lalu. 

Pemerhati dan pendidik anak Seto Mulyadi mengatakan anak bisa diikutkan berkompetisi ketika masuk usia SD. Dia menilai banyak nilai positif dari mengikuti kompetisi Itu. Misalnya, untuk mengukur kemampuan yang dimiliki si anak, seperti kemampuan menyanyi dan bermusik. Dengan mengikuti kompetisi, kemampuannya bisa terukur sehingga bisa berkarya atau berlatih lebih rajin lagi. 

"Anak yang duduk di bangku SD masuk tahap berkarya, mengembangkan serta mengukur potensi," kata Kak Seto. Kassandra menambahkan, pada usia di sebelum SD, kompetisi bisa diajarkan dalam bentuk lain. Misalnya, orangtua menyuruh anak balitanya mandi sendiri dalam atau merapikan mainan merreka sendiri beberapa menit. Kegiatan Itu pun merupakan cikal bakal berkompetisi. "Pada usia 0 - 6 tahun, anak belum paham tentang kompetisi. Tapi konsep kompetisi harus diperkenalkan sejak dini."

Kenali Stres pada Bayi

SECARA umum ada beberapa indikasi yang dapat kita endus sebagai tanda-tanda bayi (anak umur 0–2 tahun) sedang stres. Tanda yang pertama bisa berwujud tingkah laku bayi yang jadi lebih rewel daripada biasa. Jika normalnya saat menangis lalu diberi susu diam, maka sekarang ia jadi cenderung tetap menangis meski susu sudah diberikan. Atau, jika biasanya setelah digendong menjadi tenang, sekarang mendadak tetap gelisah meski sang bunda, figur lekatnya sudah menimang. Tanda ketiga yang amat kentara jika bayi sedang stres ialah penurunan nafsu makan. Ini indikasi yang paling berbahaya, karena bisa berhubungan dengan masalah tumbuh kembang anak. 

Psikolog klinis dari RS Awal Bros, RA Oriza Sativa Psi menerangkan dapat berdampak buruk jika tidak tidak segera ditanganani. Stres sendiri memiliki pengertian, tekanan psikis berlebihan yang terjadi dan berada di luar batas kemampuan yang bersangkutan. Apabila terus didiamkan, akibatnya mereka malah bisa mengalami gangguan psikis lebih berat, seperti kecemasan atau depresi. Karenanya, orangtua harus jeli melihat perubahanperubahan yang dialami bayi. 


“Tanda-tanda stres sebenarnya mudah terdeteksi, jika si kecil tiba-tiba lebih reaktif ketimbang kondisi biasa. Hati-hati, jika kondisi ini terus dibiarkan, bayi akan lebih mudah sakit. Berat badannya turun dan sulit melakukan penyesuaian dengan lingkungan. Secara garis besar, proses tumbuh kembangnya jadi terhambat,” ujar Oriza. 

Dia mencontohkan, refleks bayi enam bulan biasanya sudah bagus. Dia bisa tertawa jika bertemu orang. Namun, jika anak Anda belum demikian di usia tersebut dan dia cenderung lebih sering menangis, sedikit-sedikit ngambek, bisa jadi itu ekspresi kondisi stres bayi. Orangtua yang bijak seharusnya sudah bisa mencurigai, emosi bayi yang meledak-ledak merupakan gejala stres.

Mengganggu Perkembangan Otak
Secara klinis penyebab stres bayi bisa dibagi dalam dua aspek. Yang pertama karena alasan fisik. Misalnya sedang tidak enak badan. Jika orang dewasa bisa langsung pergi ke dokter, maka bayi hanya mampu menangis. 


Kedua, akibat aspek psikis. Meski masih kecil, sejak usia 3 bulan, bayi sudah hafal orang-orang terdekatnya, seperti ayah dan ibu. Jika tiba-tiba terjadi perbedaan pola pengasuhan, misalnya karena si ibu tiba-tiba bekerja dan bayi dipegang baby sitter mereka bisa resah. Terlebih, jika ibu harus pergi dalam waktu lama. “Hal lain yang bisa memengaruhi adalah masalah adjustment. Misalnya ia sedang tumbuh gigi atau biasanya tidur pakai AC tiba-tiba tidak. Hal-hal semacam ini bisa membuat anak stres, yang efeknya terlihat seperti sering marah-marah sendiri,” tambahnya. 

Apakah stres berkepanjangan dapat mengganggu perkembangan kecerdasan otak anak? Menurut Oriza, hal itu berkaitan namun tidak secara langsung. Jika bayi rewel terus, tidurnya akan terganggu dan makannya berkurang. Hal itu selanjutnya akan mengganggu hormon pituitari menjalankan fungsinya dengan baik. “Otak manusia itu kan memiliki jaras-jaras. Sesuatu yang dapat membuat kita tambah pintar karena pertumbuhan miliaran sel di dalamnya. Ia berkembang saat kita tidur dengan durasi cukup dan mendapat asupan gizi seimbang. Nah, kalau kondisi si bayi rewel, susah tidur dan makan, pastinya akan mengganggu perkembangan otak, meskipun tidak secara langsung,” pungkasnya. (RA)

Mainan Terbaik Bagi si Upik

FIRMAN, 7 tahun, tergolek di Rumah Sakit M Djamil Padang, Sumatra Barat. Dunia yang benderang dan ceria seketika menjadi gelap dan muram. “Bocah ini terancam tak bisa melihat seumur hidup,” kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Hadi Supeno tentang mata kanan

Firman yang luka terkena peluru senjata mainan sebesar kacang kedelai beberapa waktu lalu.Firman hanyalah salah satu korban mainan anak-anak. KPAI mencatat ada 20 korban anak terluka akibat penyalahgunaan pistol mainan berpeluru plastik. Peredaran replika pistol anak-anak saat ini memang memprihatinkan. 

Di banyak negara maju, pemerintah menerapkan kebijakan yang amat keras menyangkut standarisasi keselamatan mainan anak. Di plastik pembungkus mainan, misalnya, tertera peringatan: this bag is not a toy. Hal ini efektif untuk membuat orang tua waspada, segera melepas plastik pembungkus mainan begitu barang yang dibeli sampai ke tangan si anak. 

Kelihatannya sepele, namun sebenarnya sangat penting. Bayangkan jika plastik ukuran besar itu dimasukkan si anak ke kepalanya saat dia bermain tanpa pengawasan orang tua. Tentu, nyawa si kecil bisa melayang karena kehabisan oksigen. Langkah pencegahan lain ialah memberi label kategori umur pada setiap mainan. Ini bisa mencegah orang tua membelikan mainan yang tidak sesuai dengan umur anak. Melatih EQ dan IQ.


Bagaimana cara memilih mainan yang tepat untuk anak? Menurut RA Oriza Sativa, psikolog klinis dari RS Awal Bros, Bekasi, Jawa Barat, mainan yang baik ialah yang memiliki fungsi positif dan memenuhi tiga syarat utama, yakni menghibur, mendidik, dan sesuai dengan tumbuh kembang anak. 

Menghibur, artinya mampu menciptakan ekspresi emosi positif seperti tertawa dan gembira. Mendidik, maksudnya mainan itu harus mampu meningkatkan kecerdasan emosional (EQ) dan intelegensi (IQ). “Dari sisi EQ mainan harus mampu memicu anak berempati, bekerja sama, berimajinasi, melatih ketekunan, dan kesabaran. Adapun dari sisi IQ, mainan yang baik bisa meningkatkan kecermatan, ketelitian, berpikir analitis dan problem solving,” ujar Oriza. 


Mainan juga harus sesuai tumbuh kembang anak, yakni ada keselarasan antara usia kronologis dengan target umur mereka. Misalnya, anak 0-3 tahun, titik beratkan pada permainan yang memicu multisensor, semacam meraba, mendengar, dan melihat. Hal ini penting untuk mengaktifkan alat pancaindra dan mengembangkan fungsi motorik kasar, seperti berjalan, melompat, berlari, dan melempar. Untuk anak 3 – 5 tahun, fokuskan pada permainan yang mengasah kepekaan emosi dan motorik halus. Sebab pada tahap ini, anak sedang mengembangkan tahap prososial, alias senang bergaul dengan teman sebaya. Ajak mereka berkemah, mewarnai, atau melakukan ativitas menempel, dan menggunting. 

Adapun untuk anak 5 tahun hingga remaja, permaian yang pas ialah yang menitikberatkan pada aspek kecerdasan intelektual. Diharapkan, dengan model permainan macam ini, anak dapat berpikir kompleks hingga di masa depan mereka dapat memecahkan masalah-masalah sulit dalam kehidupan. Contoh mainan yang dimaksud adalah puzzle, monopoli, atau rubiK. 

“Jadi intinya, mainan ideal adalah mainan yang tidak membahayakan keselamatan, misalnya mengandung konten racun, tajam, atau terlalu keras. Kemudian sesuai dengan kondisi keuangan orangtua, serta sesuai dengan konteks sosial budaya,” pungkas psikolog klinis itu.

Mengendus Kapasitas Otak dengan Sidik Jari

TUHAN menunjukkan kekuasaan dan kebesaran-Nya dengan begitu unik. Pada tubuh manusia, misalnya, Tuhan Sang Maha Pencipta 'mencetak' sidik jari dalam kondisi sangat unik dan berbeda satu sama lain. S

Setiap manusia, termasuk yang terlahir kembar identik sekalipun, memiliki pola sidik jari yang unik dan khas. Dari miliaran manusia yang terlahir dan pernah mendiami planet bumi ini, tidak satu pun punya pola sidik jari sama. Karena itu, para ahli menggunakan guratan di ujung jari itu sebagai tanda pengenal paling valid yang membedakan seseorang dengan lainnya. Caranya, pola sidik jari itu diberi kode layaknya sistem kode garis (barcode) yang biasa digunakan untuk menandai suatu produk.

Sidik jari biasanya dipergunakan untuk data pribadi atau perorangan dalam pembuatan surat-surat identitas, seperti kartu tanda penduduk (KTP), surat izin mengemudi (SIM), dan paspor. Adapun polisi menggunakan sidik jari untuk mengungkap identitas korban kejahatan yang tidak dikenal dan menelusuri pelaku kejahatan yang masih misterius.

Tes Dermatoglyphics pada 1823, para ilmuwan menemukan relevansi sidik jari dengan multiple intelligence dalam manusia. Sejak itu, berkembanglah penerapan metode dermatoglyphics, ilmu tentang sidik jari. Barat menggunakan dermatoglyphics untuk bidang kedokteran dan kriminologi, sedangkan Timur menggunakannya untuk bidang pendidikan dalam mengembangkan potensi sumber daya manusia.

Hasil penelitian medis menunjukkan pembentukan sidik jari dimulai pada pekan ke-13 tahap pembentukan janin dan selesai pada pekan ke-19 usia kehamilan. Perkembangan sidik jari dan otak di dalam rahim ibu memiliki kaitan langsung. Setiap jari mewakili bagian tertentu dari otak kita. Misalnya: index = post-frontal (berpikir), tengah = parietalis (gerakan).


Leonardus Eko Widjajanto, Executive Director dan COO Brain Child Learning (BCL) Indonesia menjelaskan para ahli dermatoglyphics dan neuro-anatomi (kedokteran anatomi tubuh) menemukan fakta bahwa pola sidik jari bersifat genetis. Pola guratan-guratan kulit pada sidik jari yang dikenal sebagai garis epidermal, memiliki korelasi dengan sistem hormon pertumbuhan pada sel otak. Dia menegaskan tes dermatoglyphics memberikan akurasi hingga 95 persen untuk menilai karakteristik dan potensi otak seseorang. Hasil tes dermatoglyphics menjadi panduan penting bagi orang tua dan guru untuk pengembangan dan pembimbingan anak ke arah tepat sesuai dengan kekuatan bawaan mereka.


Sementara itu, Jason Theo dari BCL pusat di Singapura, mengatakan metode tes sidik jari BCL dikembangkan oleh Prof Roger Liem dari Taiwan. Prof Liem membawa hasil penelitiannya di Havard University dan diperkenalkan di Taiwan dan Singapura. Dia mematenkan metode tes dermatoglyphics MyDNA di Amerika Serikat.


Dia menjelaskan, ada empat jenis sidik jari. Pertama, whorl (W). Anak bersidik jari jenis ini punya sifat ingin tahu, puas dengan alasan, ketika setuju dan percaya akan melakukan sedikit atau setahap pekerjaan saja, berorientasi pada tujuan, keras kepala, dan cenderung menciptakan sistem sendiri.


Kedua, ulnar loop (U). Mereka yang masuk kategori jenis ini memiliki sifat sangat patuh dan peka, pandai menyalin atau meniru, mudah dipengaruhi lingkungan, cepat akrab, ramah, kooperatif, dan cenderung taat sistem.


Ketiga, radial loop (R). Pemilik sidik jari jenis ini cenderung memiliki pola pemikiran yang terbalik, model pemikiran yang tidak umum, menggunakan salah satu kepentingan sebagai pedoman ketika melakukan pekerjaan (bukan semata-mata logis atau alasan praktis), sangat setia kepada teman, cara mengekspresikan diri lebih unik dan sulit mengungkapkan cinta dalam hatinya.


Keempat, arch (A). Orang yang punya sidik jari jenis ini dikenal sebagai genius print, yang memiliki potensi petidak terbatas. Mereka mempelajari sesuatu sampai paham betul. Namun, mereka lebih terpengaruh emosi, lebih konservatif, tidak menyukai perubahan, dan protektif.


Leonardus memaparkan tes sidik jari juga bisa mendeteksi cara anak memahami sesuatu. Ada anak yang bisa cepat menangkap pelajaran sembari banyak bergerak atau kinestetik. Lalu ada anak yang gampang belajar dengan mendengar atau auditory. Ada pula anak yang mudah memahami suatu materi dengan visual atau melalui gambar.


Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Lydia Freyani mengatakan, sidik jari ini bukan hanya dilakukan untuk melihat bakat dan kecerdasan anak saja, tetapi juga bisa digunakan untuk orang dewasa untuk melihat bakat dan karier yang cocok untuk mereka. “Kita dengan cepat dapat mengetahui bakat dan kecerdasan yang dimiliki anak kita. Tingkat kecerdasan anak dapat diketahui lebih cepat dari sidik jarinya,” kata Profesor Lydia.