Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Di Ujung Rotan Tak Ada Emas

Hati-hati memberi hukuman kepada anak dengan memukul atau melakukan kekerasan fisik. Perlakuan kasih sayang jauh lebih baik. 

MASIH ingat dengan pepatah ini, “di ujung rotan ada emas”? Itu adalah pepatah tua dari Indonesia timur. Maknanya kurang lebih, mendidik anak dengan cara menghukum menggunakan rotan akan berguna untuk anak itu di kemudian hari. 

Kedisiplinan bisa diajarkan dengan memukul anak menggunakan rotan. Biasanya, ini dipraktikan di sekolah-sekolah dan orang tua di rumah. Misalnya, bila ada siswa yang datang terlambat, maka guru akan memukulnya dengan rotan. Atau, ada siswa yang ketahuan nyontek, maka rotan mendarat di pantatnya. Di rumah pun demikian, kerap ada orang tua yang menggunakan rotan untuk mendidik anak yang malas.


 Tapi itu dulu. Kini hampir tidak ada sekolah yang menggunakan rotan untuk menghukum siswa. Bahkan istilah setrap (dari bahasa Belanda, straf, yang berarti hukuman) hampir tidak ada lagi. Anak sekolah yang disetrap di depan kelas dengan berdiri pada satu kaki sementara kaki lainnya terangkat dan tangan kanan memegang kuping kiri, nyaris tidak pernah lagi terdengar. 

Namun demikian, tak terdengar bukan berarti punah. Di negeri ini masih banyak orang tua yang mempraktikkan cara itu untuk mendidik anak-anak mereka. Ada yang memukul, ada yang menyekap di kamar mandi, ada juga yang memukul dengan ikat pinggang. Inilah yang disebut dengan corporal punishment. 

Seharusnya, menurut Kak Seto, cara seperti itu tidak lagi dipakai. Seiring dengan semakin terbukanya kesadaran dan pengetahuan mengenai pendidikan yang ideal dalam keluarga, seharusnya tidak ada lagi orang tua yang melakukan kekerasan fisik kepada anak mereka. Itulah mengapa, negara melarang melakukannya. Memukul anak atau melakukan kekerasan kepada anak kini tergolong sebagai tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga. 

Kak Seto adalah orang yang tak pernah bosan memberi pengertian kepada publik mengenai hal ini. Sebab, masih ada orang tua yang memiliki paradigma bahwa seolah-olah mendidik anak dengan kekerasan itu wajar dan sah-sah saja, bahkan harus, sebagai bagian dari disiplin.  

Dampak negatif 
Para ahli psikologi sependapat bahwa secara umum, mendidik anak dengan kekerasan tidak akan menghasilkan efek positif. Sebaliknya, menyebabkan anak memiliki masalah emosi dan perilaku, lebih agresif, dan selalu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. 

Anak yang sering mendapat pemukulan umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan menampilkan perilaku menyimpang di kemudian hari. Komnas Perlindungan Anak bahkan pernah mencatat ada anak 9 tahun yang dendam ingin membunuh ibunya karena pernah mendapat kekerasan. Mendidik anak tanpa kekerasan, justru sangat baik untuk perkembangan anak di masa depan. Selain lebih efektif untuk orang tua dalam menyampaikan pendidikan, juga lebih sehat untuk anak.  

Beberapa Dampak Kekerasan terhadap Anak
    1. Kekerasan fisik yang terus menerus dan lama akan menimbulkan cedera serius pada anak, meninggalkan bekas luka secara fisik, hingga menyebabkan meninggal dunia.
    2. Kekerasan dalam bentuk psikis, seperi orang tua memarahi anaknya akan menyebabkan anak meniru perilaku itu. Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.
    3. Jika anak ditelantarkan, maka anak akan mendapat perhatian dari orang tua. Anak akan memiliki perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, dan sulit menyesuaikan diri.
** Disarikan dari berbagai sumber

Si Kecil Asyik Bermusik

Foto: baby-einstein.net
MENGAJARKAN anak seni adalah tindakan yang tepat untuk anak-anak. Tujuannya, bukan menjadikan anak itu seniman, tetapi mengajarkan sensitivitas.

AQILA, 4 tahun, kini punya mainan baru. Bocah laki-laki itu sedang kerajingan piano. Ia senang ketika jemarinya berada di atas tuts piano dan berjingkrak-jingkrak bila tuts yang ia pencet mengalunkan potongan nada lagu “Balonku”.

Aqila memang masih kanak-kanak, bahkan sekolah di TK saja belum. Namun, orang tuanya tak bisa menghalangi hasratnya yang menggebu-gebu bila mendengar suara musik. Sekarang, ia rutin belajar memencet tuts piano, dua kali seminggu di sebuah tempat kursus musik di dekat rumahnya di kawasan Cibinong, Bogor.

Ada jutaan atau mungkin miliaran anak seperti Aqila di dunia ini, anak yang kerajingan musik di usia belia. Dan, mengajarkan mereka seni adalah tindakan yang tepat untuk anak-anak. Tujuannya, bukan menjadikan anak itu seniman, tetapi mengajarkan sensitivitas.

Profesor Nina Kraus dari Northwestern University in Chicago, Illinois, AS pernah melakukan penelitian mengenai hal ini. Hasilnya, “Bermain musik pada anak-anak memacu kemampuan untuk mencerna pola-pola seperti suara, harmoni, atau ritme.”

Menurutnya, sensitivitas terhadap pola suara berhubungan erat dengan kemampuan membaca dan mencerna pembicaraan orang meskipun dalam kondisi yang bising. Singkatnya, musik bisa membentuk kemampuan otak dalam menangani aktivitas sehari-hari, termasuk membaca dan menulis.

Tidak hanya musik yang mengandalkan suara. Seni gerak seperti tari juga baik untuk anak-anak. Dr. Roul Sibarani, SpS, dari Rumah Sakit MRCCC Siloam, menyatakan, menari mampu menstimulasi seluruh bagian otak. “Menari merupakan perpaduan antara mendengar, melihat, olah gerak dan mengingat gerakan," kata dia sebagaimana dikutip Antaranews.com.**

Bertengkar dengan Anak itu Bagus

Foto:blog.childrensdayton.org
 JANGAN sedih bila anak Anda selalu mendebat. Anak yang sering bertengkar dan selalu berargumentasi dengan orangtuanya ternyata jauh lebih baik dibandingkan dengan anak yang diam saja.   

Penelitian menunjukkan anak-anak yang sering bertengkar secara verbal dengan orang tuanya lebih mampu menghadapi tekanan dan cenderung menjauhi narkoba atau alkohol di usia dewasanya. Mereka juga akan menjadi negosiator ulung dan mengambil banyak pelajaran dari orang yang lebih dewasa. 


Penelitian itu dilakukan oleh ilmuwan dari Universitas Virginia, Amerika Serikat. Hasil penelitian ini menyarankan agar orang tua sering berbicara dengan anak-anak remajanya. Paling tidak, ini berguna untuk melatih kemampuan anak itu, meskipun risikonya harus marah-marahan dengan sang anak. 

Penelitian dilakukan terhadap 150 anak berusia 13 tahun saat mereka bertengkar dengan orang tuanya. Peneliti mengamati dan membuat rekaman audio maupun video pertengkaran itu. Tiga tahun kemudian, anak-anak itu diwawancarai mengenai kehidupannya dan pengalamannya dengan narkoba atau alkohol. Hasilnya, anak-anak yang memiliki kepercayaan diri dan suka berargumen dengan orang tuanya ternyata memiliki perilaku yang baik dan mereka tidak pernah bersinggungan dengan narkoba maupun alkohol.**

Musik Mengolah Jiwa Anak

MUSIK dapat dinikmati semua usia, tak mengenal batas waktu dan ruang, jenis kelamin, dan kondisi seseorang. Bahkan, tidak sedikit yang menganjurkan perlunya mulai memperkenalkan atau memperdengarkan pada bayi. Irama dan timbre (warna musik) mendorong anak melakukan gerakan yang akan memengaruhi perkembangan motorik mereka. 

Berlokasi di Surakarta, Jawa Tengah, Sekolah Musik Indonesia (SMI) secara resmi dikenalkan pada khalayak umum pada April 2010, untuk merevolusi pendidikan musik di Tanah Air. SMI melengkapi metode pendidikan musik cara lama dengan cara baru, yang lebih mengutamakan kreativitas sejak dini, keseimbangan otak kanan dan kiri, serta pedagogik untuk pengembangan siswa-siswi secara mental, spiritual, maupun sosial. 

Sekolah musik yang menekankan pentingnya pengoptimalan teknologi sebagai sarana belajar musik itu ditunjang beberapa fasilitas pokok di setiap ruang kelas, seperti komputer, keyboard controller, dan akses internet. Setiap siswa pun bisa langsung merekam latihan mereka, mendengarkan kembali, dan menelaahnya. 

“Setiap siswa memiliki perkembangan kemajuan dari setiap hasil pertemuan. Sekitar bulan Oktober SMI akan memperkenalkan website dan disana juga akan terdapat beberapa rekaman siswa selama berlatih di kelas, sehingga dengan ini orang tua dapat memantau kemajuan anak lewat media internet,” kata Agoes Boedi Wijono kepada SBH

Dengan begitu, perkembangan secara gradual bisa dideteksi secara langsung, dan ini efektif sebagai metode pendidikan cara baru berbasis teknologi. Menurut Agoes, dengan teknologi itu, siswa diperkenalkan dengan softwaresoftware aplikasi musik untuk merekam, memainkan musik, maupun menulis notasi. Musik yang dipelajari di SMI meliputi multi-genre, antara lain klasik, pop, jazz, dan blues. Adapun pilihan major alat musiknya beragam, seperti piano, gitar, bas, drum, dan biola. “Kita membuat terobosan dalam hal kurikulumnya. Seorang siswa yang belajar di SMI ibaratnya buy 1 get 3, selain belajar kelas, mereka juga memperoleh kelas privat dan juga demo,” ujar Agoes. 

Dia menekankan bahwa siswasiswi yang belajar di SMI tidak hanya dituntut terampil memainkan instrumen musik secara individu, tetapi juga mampu bekerja secara kelompok. Selain kelas privat, siswa-siswi mendapatkan kelas untuk praktik band, teori umum, dan praktik teknologi musik di laboratorium. Dalam mendidik siswa-siswinya, SMI menekankan aspek pengalaman, kreativitas, perasaan musik (sense of music), dan perasaan nyaman (good feeling). 

Eksistensi SMI sebagai lembaga pendidikan musik mengusung tiga nilai sekaligus, yakni value of money, value of academic, dan practical value. “Kita tidak bisa hanya berpusat kepada profit, sementara secara akademis, pendidikan musik semakin melorot kualitasnya. Demikan juga, ketika sebuah lembaga pendidikan hanya berpusat pada teori-teori dan lupa dengan industri, maka lama kelamaan akan mati, karena pada akhirnya industri juga ikut menentukan masa depan.”

Cara Sehat Ajari Anak Berpuasa

SEJATINY, bagi ummat Islam, puasa bukanlah kewajiban yang harus dilakukan anak-anak, mengingat mereka belum memasuki fase akil baligh (usia pubertas).

Namun, mengajari anak berpuasa sejak dini membuat mereka kelak tidak berat menjalankan kewajiban tersebut ketika mereka dewasa kelak. Apalagi, berpuasa secara medis pun diakui banyak manfaatnya bagi kesehatan tubuh. Kapan dan bagaimana cara yang tepat mengajarkan sang buah hati berpuasa dan menanamkan esensinya? 

Menurut beberapa ahli, usia yang tepat untuk mulai mengajarkan anak berpuasa ialah empat tahun ketika kondisi kesehatan anak dinilai sudah mulai stabil. Namun para orang tua perlu memperhatikan asupan gizi anak, karena mereka masih dalam masa tumbuh kembang. 


Bila pada orang dewasa, nutrisi yang masuk ke dalam tubuh hanya digunakan untuk proses metabolisme tubuh, misalnya proses pencernaan, tidak demikian kondisinya pada anak-anak. Selain sebagai bahan bakar tubuh, zat makanan yang masuk juga untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Yang terpenting dalam mengajarkan anak berpuasa ialah bertahap sesuai dengan kemampuan mereka. 

Hindari memaksa mereka berpuasa sehari penuh sejak pagi buta (subuh) hingga petang (maghrib). Poin yang harus Anda ajarkan ialah bahwa mereka sedang belajar berpuasa. Sebaiknya Anda membuat jadwal kapan sebaiknya anak berpuasa. 

Anda bisa tentukan atau sesuaikan jam berpuasa, misalnya untuk si kakak yang lebih besar, diajarkan berpuasa setengah hari mulai setelah sahur (subuh) hingga jam makan siang, kemudian berpuasa lagi hingga waktu buka (maghrib) tiba. Adapun untuk sang adik yang lebih kecil, Anda bisa membagi jadwal belajar berpuasanya menjadi tiga tahap. Misalnya, adik boleh sahur tiga-empat kali, yakni pada waktu yang sebenarnya (dinihari menjelang subuh), sekitar pukul 09.00- 10.00, jam makan siang sekitar pukul 12.00, dan pukul 03.00, kemudian ikut berbuka bersama saat maghrib tiba. 

Peran orangtua juga penting dalam mengkomunikasikan makna puasa yang sebenarnya. Tanamkan pemahaman bahwa puasa bukan sekadar tidak makan dan minum, melainkan ada makna besar di balik semua itu, seperti wujud rasa syukur kepada Allah atas karunia-Nya.

Ingin Anak Hebat? Apresiasilah Mereka

COBALAH simak cerita berikut ini. Seorang bocah Indonesia baru pindah ke satu sekolah dasar di Amerika Serikat. Seorang guru di sekolah itu memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada para siswa, termasuk anak asal Indonesia itu. Guru itu menugaskan para siswa membuat karangan.

Tak dinyana, karangan berbahasa Inggris karya si anak yang masih minimal itu oleh sang guru diberi nilai E (excellence), sangat bagus atau sempurna. Padahal, karangan itu sebelumnya dimentahkan sang ayah di rumah. Tanpa memberikan penghargaan, si ayah malah meminta anaknya itu membuat karangan lagi. 

Ayah si anak itu merasa guru salah memberikan nilai. Dia tidak ingin nilai tersebut dapat membuat anaknya puas diri padahal karangannya menurut sang ayah jelek. Lalu si ayah memprotes guru atas nilai E yang diberikan kepada pada anaknya itu.

 Ibu guru yang menerima protes ayah tersebut bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” 
“Dari Indonesia,” jawab ayah si anak. 
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun menunjukkan empatinya. 
“Beberapa kali saya bertemu ayah ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan merangsang orang agar maju. Encouragement!” 

Dia melanjutkan argumentasinya. “Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan Bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya sambil menunjukkan karangan itu. 
 “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya lagi.

Memberikan apresiasi kepada anak-anak memang diperlukan. Itu bisa dimulai dari dalam rumah oleh orangtua dan orang-orang terdekat. Seorang anak harus merasa bahwa dia kebanggan sekaligus harapan orang tua, keluarga, guru, dan orang lain. Cara menanamkan perasaan seperti itu bisa dimulai dari hal kecil, seperti melibatkannya dalam pekerjaan rumah yang ringan, seperti menyapu, membuang sampah, dan membantu mengambilkan barang. Apapun hasil pekerjaannya, si anak harus dihargai dan diberi apresiasi. 

Banyak orangtua yang seringkali lalai menyelami perasaan anak. Banyak orang tua cenderung menggunakan sudut pandang mereka ketimbang memahami perasaan dan jalan pikiran anak. Tanpa sadar, kebanyakan orangtua yang mengklaim punya niat dan tujuan baik, malah seringkali berbicara yang sifatnya melarang dengan katakata yang membuat perasaan mereka terluka. Misalnya, ‘Pergi sana. Kamu masih kecil, jangan banyak bicara’. Atau sang kakak yang melarang adiknya bermain dengan kata-kata, “Kalau sudah sama umurnya, kamu boleh bermain dengan saya. Kalau sudah besar baru boleh bermain dengan saya”. 

Perlakuan yang tidak menunjukkan penghargaan terhadap anak dapat berakibat buruk bagi perkembangan mereka. Jangan heran bila kemudian si anak lebih menghargai lingkungan di luar rumah ketimbang orangtua, saudara atau kerabat mereka di rumah. Meski hanya senyuman, kata penyemangat atau hadiah sebatang coklat, hal itu cukup membuat anak-anak merasa berarti di hadapan orang tua, saudara, guru, dan rekanrekan mereka. 

Bisakah kita mencetak generasi hebat jika dari awal kita menciptakan hambatan dan rasa takut? Apa jadinya jika generasi mendatang ditempa dengan sejuta ancaman, sabetan gesper, pukulan rotan, atau lemparan penghapus oleh guru? Sekolah yang membuat siswa tidak nyaman dengan berbagai ancaman hukuman dan sederet kata “awas” mungkin telah membuat mereka menjadi lebih disiplin. Namun, di sisi lain bisa juga mematikan sisi humanis mereka untuk menghargai orang lain.

Mencerdaskan Anak dengan Mendongeng



Mendongeng mengajarkan pada anak nilai-nilai moral, pengontrolan emosi, pengembangan bahasa, dan mendekatkan hubungan anak dengan orangtua.


DONGENG bukan sekadar kisah atau cerita dari negeri antah berantah. Dongeng sejatinya ialah paparan kehidupan yang sarat pesan moral dan kebajikan. Pesan itu disampaikan secara halus melalui contoh-contoh yang diperankan para tokoh dalam dongeng itu.

Uniknya, dari mana pun asalnya, dongeng membawa pesan moral tentang nilai-nilai kehidupan, seperti jujur, kerja keras, kasih sayang, cinta sesama dan lingkungan, pentingnya persahabatan, ketekunan, berbakti pada orangtua, dan keyakinan bahwa kebenaran atau kebaikan pasti menang.Cobalah Anda simak dongeng tentang Putri Cinderella, Sinbad, Ciung Wanara, Malin Kundang, Bawang Merah Bawang Putih, Si Kancil, dan kisah Lukmanul Hakim beserta anak dan keledai mereka. 

Dongeng tentang mereka sarat dengan pesan moral dan nilai-nilai yang sangat penting ditanamkan kepada anak sejak dini. Selain itu, dari aspek hubungan orangtua dengan anak, kebiasaan mendongeng menjadi jembatan perekat kedekatan ayah dan ibu dengan anak. Anda tentu tidak ingin mengalami apa yang oleh kalangan psikolog disebut sebaga proses seorang ibu yang “kehilangan” atau hampir “kehilangan” anak sebagaimana pengalaman Dini Hermansyah, 35 tahun. 

Perempuan karier itu gundah gulana lantaran mereasa tidak bisa berkomunikasi lagi dengan Adrian, putranya yang beranjak ke usia 13 tahun. Dini mengungkapkan, sejak kepergian ayah Adrian 7 tahun silam, dia mulai jarang menyempatkan waktu mengobrol dengan sang buah hati. Sebagai orangtua tunggal, ia harus bekerja keras menghidupi keluarga. Adrian kecil pun diasuh sang nenek, yang kini juga telah tiada. 

Saat kariernya mulai cukup mapan dan bisa lebih banyak meluangkan waktu di rumah, Dini mulai bingung mencari cara “memenangkan” kembali hati Adrian. Padahal sebelum bekerja dulu, ia amat dekat dengan Adrian. Kini, setiap ada waktu libur, Adrian lebih senang bermain bersama temantemannya. Kalaupun ada di rumah, dia banyak diam dan tidak pernah bercerita apapun tentang sekolah atau kisah bunga-bunga kehidupan sebagai remaja.

Orangtua Profesional
Dalam mengasuh anak, banyak orang tua yang sibuk berkarier kurang menyadari bahwa membekali mereka dengan materi saja belum cukup. Dalam masa pertumbuhan, seorang anak membutuhkan figur dari kalangan terdekat, yakni orangtua, untuk selalu hadir di saat-saat penting hidup mereka. 


Dr Seto Mulyadi Msi, psikolog anak yang juga Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak mengingatkan sesibuk-sibuknya orangtua seharusnya tidak ada alasan mengabaikan anak. “Saya sering bilang pada orangtua yang datang ke tempat praktik, jika bapak- ibu merasa terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk anak, lalu mengapa dulu punya anak?” ujarnya. 

Dia berpendapat menjadi orangtua itu harus profesional. Artinya, status teryang harus dianggap serius, bukan pekerjaan main-main. Ada nilai tanggungjawab dan kuncinya ialah kemauan bukan kemampuan. Menurutnya, karena tidak menjalin komunikasi efektif dengan anak, banyak orangtua yang “kehilangan” anak saat si kecil beranjak remaja. Hal ini adalah akumulasi, dari ketidakbiasaan komunikasi yang dibangun sejak lama. 

Pemerhati anak yang akrab dipanggil Kak Seto itu melihat mendongeng menjadi salah satu jembatan untuk mendekatkan orangtua dengan anak. Sebagian orang boleh menganggap budaya mendongeng kuno, namun itulah momen paling tepat untuk “mengikat” hati anak dan menjadi kompensasi atas momen yang hilang saat orangtua bekerja. 

Menurut Kak Seto, yang pernah diundang mendongeng di Jepang, Pakistan, Belanda, Kamboja, dan India, ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dari mendongeng. Misalnya, menanamkan dan mengasah sopan santun, disiplin, nilai-nilai moral, spiritual, agama, dan kognitif anak. Dari dongeng yang disampaikan, orangtua secara tidak langsung juga mengontrol perkembangan emosi, seperti rasa marah, gembira, empati, dan kasih sayang. 

Selain itu, mendongeng bisa merangsang perkembangan bahasa. Misalnya, ketika si ayah bercerita, “Saat itu, sang kancil berjingkat-jingkat di kebun pak tani”. Lalu si anak bertanya, “Berjingkat itu apa ayah?” Di situlah terjadi proses pengayaan bahasa. Mendongeng pun bisa melatih kreativitas dan mengasah otak anak. Misalnya, saat Anda bercerita tentang si kancil yang ingin menyeberang sungai diadang banyak buaya. Anda bisa memancing si kecil dengan pertanyaan, “Bagaimana cara kancil melewati sungai menurut kamu?” 

Adapun bagi orangtua, kebiasaan mendongeng akan membantu mereka menjadi sahabat anak. Ironisnya, minat orang Indonesia menjadi pendongeng sangat rendah. “Mungkin jumlahnya tinggal 10 orang, dan saya satu-satunya yang perempuan. Ditambah Pak Raden, idola saya yang kini jarang tampil, malah mungkin jumlahnya tinggal sembilan,“ ungkap Poetri Soehendro, pendongeng yang juga mantan penyiar Radio Prambors. 

Menurut perempuan 46 tahun yang telah sembilan tahun menjadi pendongeng itu, semua orang seharusnya bisa menjadi pendongeng buat orang terdekat. Misalnya orangtua ke anak, atau guru ke murid. Soal ide cerita untuk didongengkan, Poetri menyarankan pemanfaatan mesin pencari di Internet dengan kata kunci story telling. Mengapa saat ini budaya mendongeng pudar? “Kemajuan teknologi, seperti televisi dan DVD membuat banyak orangtua ‘menyerahkan` dan memercayakan edukasi anak mereka pada alat elektronik. Mereka tidak sadar, bahwa ada hal-hal yang tidak bisa tergantikan, yakni momen kebersaman dan komuniasi yang tercipta, antara anak dan orangtuanya,” tutup Kak Seto. (RA)

Ajari Anak Berkompetisi dan Menerima Kekalahan

DALAM sebuah pertandingan dan di sekolah, tidak ada satu pun tim atau orang yang ingin kalah dan menjadi nomor dua. Semuanya ingin menang. Situasi kalah dan menang itu tidak hanya terjadi di dalam pertandingan.

Dalam kehidupan nyata, kalah dan menang juga bisa terjadi. Menciptakan sebuah kompetisi yang sehat bagi anak memang harus diberikan di lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah.

Di sekolah, iklim belajar kompetitif akan efektif pada kelas-kelas yang homogen. Di kelas seperti itu, anak-anak yang berkompetisi harus memiliki kompetensi yang seimbang. Sebaliknya, iklim pembelajaran kompetitif di kelaskelas yang heterogen dengan kompetensi dan latar belakang kemampuan yang berbeda-beda, hanya akan menimbulkan persaingan tidak sehat. 

Kompetisi yang tidak sehat bukan saja tidak efektif dalam meningkatkan prestasi anak, melainkan juga dapat membuat ”sakit” kepribadian anak yang sehat. Ada empat iklim belajar kompetitif yang sehat untuk meningkatkan prestasi belajar di sekolah. Yakni, kompetisi antaranak yang berkemampuan seimbang, kompetisi antarkelompok yang memiliki kekuatan seimbang, kompetisi dengan KKM (kriteria ketuntasan minimal), dan kompetisi anak dengan diri mereka sendiri. 

Psikolog Kassandra A Putranto mengingatkan dalam setiap kompetisi ada yang menang dan kalah. Karena itu, belajar berkompetisi bukan hanya belajar menjadi juara melainkan juga latihan menerima kalah. "Anak butuh belajar menerima kekalahan. Yang terpenting bangkit dari kekalahan Itu. Kalau tidak pernah belajar menerima kekalahan, anak juga tidak pernah belajar bangkit dari kekalahan," kata Kassandra. 

Di dalam kehidupan sehari-hari, terkadang orang harus mengalami jatuh bangun. Seperti kisah heroik para atlet yang bangkit dari kekalahan lalu berlatih keras untuk meraih kemenangan. Itulah yang antara lain yang pernah terjadi pada juara tenis di Commonwealth 2010 Ana Ivanovic. 

Petenis asal Serbia itu pernah menjadi peringkat pertama putri dunia, lalu peringkatnya terus melorot dan sempat menghilang karena cedera. Namun dengan usahanya yang keras untuk sembuh dari cedera serta berlatih keras, gelar dunia pun kembali diraihnya. Termasuk di turnamen Commonwealth di Bali beberapa waktu lalu. 

Pemerhati dan pendidik anak Seto Mulyadi mengatakan anak bisa diikutkan berkompetisi ketika masuk usia SD. Dia menilai banyak nilai positif dari mengikuti kompetisi Itu. Misalnya, untuk mengukur kemampuan yang dimiliki si anak, seperti kemampuan menyanyi dan bermusik. Dengan mengikuti kompetisi, kemampuannya bisa terukur sehingga bisa berkarya atau berlatih lebih rajin lagi. 

"Anak yang duduk di bangku SD masuk tahap berkarya, mengembangkan serta mengukur potensi," kata Kak Seto. Kassandra menambahkan, pada usia di sebelum SD, kompetisi bisa diajarkan dalam bentuk lain. Misalnya, orangtua menyuruh anak balitanya mandi sendiri dalam atau merapikan mainan merreka sendiri beberapa menit. Kegiatan Itu pun merupakan cikal bakal berkompetisi. "Pada usia 0 - 6 tahun, anak belum paham tentang kompetisi. Tapi konsep kompetisi harus diperkenalkan sejak dini."

Bermain Kreativitas dengan Robot

DI luar pendidikan formal, banyak orangtua yang seperti berlomba memasukkan anak mereka ke suatu lembaga pendidikan ekstra sekolah alias tempat kursus. Di tengah ketatnya kurikulum dan padatnya jadwal mata pelajaran di sekolah, kursus dengan sistem pembelajaran menyenangkan bisa memberikan relaksasi yang efektif untuk menambah wawasan dan kemampuan.

Kursus semestinya tidak menjadi beban tambahan bagi sang anak.Bagaimana dengan kursus robot? Ini menjadi alternatif yang dapat dicoba guna mengembangkan kreativitas melalui pelajaran merancang, mendesain, dan mengembangkan teknologi robot. Jika tertarik, Creativkids Education bisa menjadi pilihan tempat pelatihan semacam itu. 


“Kami melihat, diperlukan sebuah sistem pendidikan yang dapat menerobos cara konservatif dalam hal belajar. Banyak ahli pendidikan berpendapat, anak 12 tahun ke bawah seharusnya belajar dengan konsep yang menyenangkan sekaligus melakukan praktik,” ujar Direktur Creativkids Gunawan Tunas Creativkids. 

Dia memaparkan lembaga yang dia dirikan pada 2007 itu bertujuan mengembangkan kreativitas dan pemahaman anak, dengan cara-cara efektif dan menyenangkan. Selain mengasah kemampuan pengembangan teknologi robot, Creativkids juga menerapkan praktikum matematika, fisika, dan sejarah. Menurut Gunawan, ilmu robotik efektif dalam merangsang otak anak. Ia juga bermanfaat dalam hal menggabung konsep konstruksi desain, bangun ruang, kerja sama tim, pemecahan masalah, dan logika berpikir. Creativkids menerapkan tiga level pembelajaran, yakni creativity, construction, dan robotic yang diberikan sesuai dengan usia anak. Level robotik diperuntukkan bagi anak usia 8 tahun ke atas. Anak-anak yang belum memasuki usia tersebut diarahkan ke level kreativitas atau konstruksi.

Teknologi Baru
Kursus di Creativkids Education dimulai sejak anak memasuki umur 3 – 5 tahun untuk kategori junior. Dilanjutkan ke basic (6–10 tahun), intermediate (11–15 tahun), dan advance (15 tahun ke atas). Setiap level di lembaga pendidikan itu memiliki sub-level yang durasinya sekitar 3 bulan.


 “Di Creativkids kami tidak menggunakan ukuran “bagus” atau “kurang bagus” untuk menilai desain yang mereka buat. Setiap kreasi yang dibuat anak adalah sesuatu yang unik. Ia merupakan bentuk eksplorasi dari potensi otak anak bersangkutan. Dan setiap desain yang ditemukan manusia, biasanya memang belum sempurna. Namun seiring berjalannya waktu, desain yang mereka buat pasti berkembang.” 

Di level junior anak akan diajarkan mengenal dunia sekitar dengan metode story telling dan membentuk benda menggunakan permainan Lego Soft. Di level ini, anak-anak juga belajar tentang ilmu memadukan warna (color matching), matematika sederhana, dan bangunan sederhana. Di level basic, anak-anak di perkenalkan pada struktur dan mekanika sederhana dengan merancang dan membuat sistem yang sering dijumpai dalam keseharian, seperti sepeda, mobil, katrol, dan alat pengungkit. Di level intermediate, dipelajari dasar-dasar robot dengan lebih menitik beratkan pada sistem pemrograman.


Terakhir, di level advance, kemampuan anak diasah untuk bisa menciptakan teknologi robot baru yang berguna dalam bidang industri ataupun keseharian. “Teknologi baru yang dimaksud tidak selalu harus canggih. Namun lebih mengarah pada sesuatu yang berguna bagi umat manusia dan merupakan hasil temuan orisinil dari siswa bersangkutan,” kata Gunawan. 


Ia mencontohkan, siswa di Creativkids saat ini telah menemukan program becak bertenaga matahari dengan menggunakan solar panel. Kemudian ada pula robot pembersih kaca gedung, robot untuk memblender makanan, dan robot wayang. Gunawan bangga, meski lembaga pendidikan yang dipimpinnya baru tiga tahun berdiri, anak-anak didiknya mampu menorehkan prestasi gemilang. Di antaranya meraih penghargaan Open Category di ajang Indonesian Robotic Olympiad 2009 dan 2010 serta membawa pulang piala acara BNI46 Talent Kids 2010. ”Namun yang lebih membanggakan kami adalah apresiasi dari orangtua murid saat melihat anak-anak mereka, tumbuh kembang di tempat ini menjadi anak yang lebih baik,” tutup Gunawan. (RA)

Mengasuh Anak Dengan Hypnoparenting



Hypnoparenting mengajarkan orangtua  memetakan secara sistematis tugas-tugas mengasuh dan mendidik anak dengan pendekatan cara kerja pikiran dari kacamata anak.

TIDAK dapat dipungkiri, citra hipnosis di benak kebanyakan orang cenderung negatif. Hipnosis acapkali dikaitkan dengan perilaku kejahatan, seperti menipu, memperdaya orang untuk diambil barang miliknya, dan merayu seseorang agar menuruti kemauan penghipnosis.

Namun, hipnosis sebenarnya tiada bedanya dengan hal-hal lain di dunia ini yang posisinya berada di dua kutub: baik dan buruk. Fungsi baik atau buruk itu sangat tergantung dari a man behind the gun. 

Dari kacamata manfaat, belakangan hipnosis menjadi tren pendekatan atau metode terapi dalam mengatasi permasalahan kesehatan, baik kesehatan fisik maupun jiwa. Muncullah istilah hipnoterapi, yakni terapi dengan menggunakan metode hipnosis. Secara kultural, masyarakat Indonesia bahkan telah mempraktikkan metode terapi dengan hipnosis itu secara turun temurun untuk menolong ibu-ibu yang melahirkan atau anak-anak yang sunatan. Dengan hipnosis, sakit akibat persalinan atau sunatan bisa berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Hanya, selama ini, hipnosis semacam itu selalu dikait-kaitkan dengan hal-hal berbau klenik atau takhayul. 

Kini, di era modern yang serba dilandasi pendekatan ilmiah, hipnosis pun dilirik kalangan praktisi pendidikan dan psikologi. Hipnosis digunakan sebagai pendekatan dan metode dalam pengasuhan dan pembimbingan anak atau yang dikenal dengan hypnoparenting. Apa itu?

Magis Yang Logis
Praktisi hipnoterapi Ariesandi Setyono menjelaskan istilah hypoparenting berasal dari kata hypnosis dan parenting. Di dunia terdapat dua aliran besar hipnosis yaitu aliran Timur dan Barat. Pada aliran Timur memang banyak dijumpai hal-hal yang bersifat mistis atau ”magis”.  Sebaliknya, hipnosis aliran Barat dipengaruhi teori-teori mengenai pikiran dan struktur bahasa. Menurut Ariesandi, hypnoparenting merujuk pada hipnosis aliran Barat yang berlandaskan pendekatan ilmiah berdasarkan penelitian para pakar yang berkecimpung di dunia kedokteran dan psikologi. 


“Sebenarnya fenomena hipnosis kita alami setiap hari. Pernakah Anda melihat film yang mengharukan hingga menangis? Anda larut dalam film itu sehingga seakan-akan menjadi sesuatu yang nyata. Itulah hipnosis,“ jelas master hipnoterapis itu dalam situsnya. 

Penulis buku Hypnoparenting itu memberikan contoh lain. Coba Anda bayangkan jeruk lemon sangat segar di tangan, kemudian dibelah menjadi dua bagian dan peras ke mulut. Bagaimana reaksi tubuh Anda? Biasa saja atau air liur menjadi lebih encer? “Jika anda perhatikan jeruknya kan tidak ada, hanya imajinasi saja bukan? Tetapi mengapa tubuh kita bereaksi dengan cara yang sama ketika jeruknya benar-benar ada?” ujarnya.

Itulah daya magis hipnosis yang prosesnya bisa dijelaskan secara ilmiah, bukan dengan pendekatan klenik. Dalam kasus jeruk lemon itu, otak kita menangkap gambaran mental dari jeruk lemon. Dan ketika kita melakukannya dengan penuh perasaan dan konsentrasi maka otak menganggap hal itu adalah suatu kenyataan dan memerintahkan tubuh untuk bereaksi dengan cara yang sama saat kita berhadapan dengan jeruk lemon yang sesungguhnya. 

Satu syarat mutlak agar daya sugesti semacam itu bisa ngefek ialah pengalaman empiris. Artinya, Anda harus pernah punya pengalaman melihat dan merasakan jeruk lemon sehingga bisa membayangkan dengan detil. Pengalaman nyata itu penting sebagai proses pemasukan informasi ke dalam otak atau pikiran. Itulah proses hipnosis. Ada pula yang menyebutnya dengan permainan pikiran atau mind game.

Teladan Nyata
Bayangkan jika sugesti semacam diterapkan dalam membesarkan dan membimbing atau mendidik anak. Tentu, orang tua tidak perlu stres atau bahkan depresi lantaran harus sering bersitegang dengan anak yang dianggap nakal, susah diatur, atau bandel. Menerapkan pendekatan atau metode hipnosis dalam mendidik dan membesarkan anak itulah yang disebut hypnoparenting. 


Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara tanpa kita sadari sebenarnya menerapkan metode hypnoparenting. Masih ingat prinsip yang ditularkan Ki Hajar Dewantara dalam mendidik para siswanya agar menjadi anak cerdas ydan berbudi luhur? Ki Hajar menunjukkan kunci sukses yang kemudian dianut dunia pendidikan nasional hingga kini. Kunci sukses yang harus dicamkan para orangtua dan pendidik itu ialah: Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (di depan memberikan teladan, di tengah membangkitkan semangat dan kreativitas, dan dari belakang membimbing). 

Pepatah mengatakan, “pengalaman ialah guru terbaik, experience is the teacher“. Sayangnya, masih banyak orangtua yang keliru menerjemahkan pepatah itu dalam mendidik anak mereka. Pola asuh dan cara mendidik yang mereka terima dari orang tua pada masa kanak-kanak dulu diterapkan untuk mengasuh dan mendidik anak mereka sekarang. Padahal, tantang zaman dulu dengan sekarang sangatlah berbeda. Belum lagi jika pengalaman masa lalu orang tua itu kurang baik bagi perkembangan otak dan kejiwaan anak. 

“Kita memperlakukan anak kita sebagaimana orangtua memperlakukan kita dulunya. Padahal, kita seharusnya memperlakukan anak sebagaimana kita dulu ingin diperlakukan oleh orangtua kita. Dengan begitu kita bertindak atas dasar perasaan seorang anak, bukan atas dasar perasaan kita sebagai orangtua,“ kata Ariesandi. 

Dengan hypnoparenting, orangtua berusaha memetakan secara sistematis tugas-tugas mengasuh dan mendidik anak dengan pendekatan cara kerja pikiran dari kacamata anak. Pendekatan pada cara kerja pikiran akan membuat orangtua lebih mudah mengasuh dan mendidik anak mereka. 

Bukankah pikiran itu komando yang menggerakan syaraf-syarat tubuh lain? Bukankah kemampuan berbicara bahasa ibu seorang anak tidak didapat dari tempat kursus? Tentu, kemampuan bayi berbicara dalam bahasa ibu itu didapatkan dari proses pikirannya merekam setiap kata yang berulangulang dia dengar dari orang-orang di sekitarnya. Tentu si anak yang secara fisik normal akan bisu atau gagu jika sejak bayi dibesarkan di lingkungan orang-orang bisu yang hanya menggunakan bahasa isyarat. Bayi pun diyakini bisa berjalan karena lebih disebabkan oleh proses meniru orang-orang di sekitarnya ketimbang proses pertumbuhan fisik seiring dengan berjalannya waktu. Diyakini, seorang bayi yang pertumbuhan fisiknya normal tidak akan bisa berjalan tegak jika selama balita dia selalu menyaksikan orang-orang di sekitarnya merangkak.

Belajar Mandiri Via Homeschooling

HOMESCHOOLI NG dapat diartikan sebagai sistem pendidikan yang diselenggarakan di rumah dan menempatkan anak sebagai subjek yang dapat belajar nyaman, kapan saja, dimana saja.

Pendidikan model ini dapat ditempuh secara privat (tunggal) atau majemuk. Cara privat dilakukan orangtua dalam satu keluarga, sedangkan cara majemuk dilaksanakan oleh dua keluarga atau lebih dengan kegiatan pokok dilaksanakan orangtua masing- masing di rumah. 


 Dengan format belajar mandiri itu, apakah lulusan homeschooling diakui pemerintah? Jawabannya ya, karena dari sisi legalitas, keberadaan homeschooling ditopang UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dan layaknya pendidikan sekolah umum, homeschooling juga memiliki jenjang dari SD, SMP, hingga SMA. Dengan homeschooling, anak-anak berkesempatan mendapat materi pelajaran lebih luas, tidak baku seperti di sekolah konvensional. Mereka juga boleh memilih waktu belajar. Agar metode belajar ini efektif, peran orangtua penting, terutama dalam mengawasi dan memberi dukungan agar anak tetap semangat belajar.

Melatih Tanggungjawab
Pemerhati dan praktisi pendidikan anak DR Seto Mulyadi atau yang lebih akrab disapa Kak Seto menjelaskan homeschooling ialah metode pendidikan yang tidak mengharuskan siswa masuk kelas. Mereka mengikuti proses belajar dengan waktu yang bisa ditentukan.


"Homeschooling berupaya menjemput anak sekolah, ketimbang meminta mereka datang ke sekolah," ujar Ketua Komnas Anak itu. Sementara itu, Dewi Hughes, mantan presenter yang kini menggeluti “bisnis” homeschooling mengatakan, keuntungan yang diperoleh anak dari belajar di E-Hughes Schooling antara lain murid diarahkan bersentuhan langsung dengan dunia kerja yang nanti ia hadapi. Contoh, jika ada siswi tertarik dengan dunia fesyen, sekolahnya berupaya membawa si anak berkenalan dan menimba ilmu langsung dari desainer top Indonesia. Sebab meski namanya `sekolah di rumah`, tidak melulu aktivitas belajar dilakukan di rumah. 


Hughes menambahkan, karena minat dan bakat tiap anak berbeda, di homeschooling miliknya itu tidak ada penyeragaman, baik dalam bentuk pakaian ataupun pelajaran. Setiap anak mendapat kurikulum berbeda sesuai dengan ketertarikan mereka pada objek tertentu. Anak-anak diberi kesempatan seluas-seluasnya mengembangkan minat dan bakat mereka. Berbeda dengan sekolah umum ketika sistem pendidikan, sekolah, dan guru menentukan kesuksesan belajar, di homeschooling, anak itu sendirilah penentunya. Sekolah jenis ini memupuk siswa bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan konsekuen atas pilihan metode belajar yang dia ambil.

Banyak Waktu
Kendala yang sering ditakutkan orangtua yang ingin memasukkan anak ke homeschooling ialah tidak tersedianya ruang bagi si kecil untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Kak Seto menepis ketakutan itu. Dia menegaskan anak yang menempuh homeschooling masih bisa berinteraksi dengan orang lain. “Contohnya, murid-murid yang bersekolah di Homeschooling Kak Seto, mereka tetap diharuskan datang dua kali dalam seminggu, untuk bertemu dan belajar bersama anak-anak lain peserta homeschooling. Selebihnya, baru mereka belajar sendiri di rumah." 


Selain itu, lanjut Kak Seto, secara periodik, ada tutor yang datang ke rumah untuk mengajar. Sehingga interaksi antara murid dan guru tetap ada. Karena mereka belajar di rumah, anak-anak yang menempuh homeschooling punya waktu lebih banyak untuk melakukan hal-hal positif yang mereka suka. Misalnya, membaca, bermain musik, atau olahraga. 

Kelebihan lain dari metode homeschooling, karena guru datang ke rumah hanya untuk mengajar anak kita, kemungkinan anak didik menyerap pelajaran lebih besar. Tahukah Anda, selain beberapa artis muda yang punya jadwal kerja padat, jalur homeschooling juga ditempuh para tokoh pergerakan nasional dan pendiri Republik tercinta ini? Ki Hajar Dewantara, KH Agus Salim, dan KH Buya Hamka ialah contoh orang-orang besar yang menempuh homeschooling. (RA)

Kenali Stres pada Bayi

SECARA umum ada beberapa indikasi yang dapat kita endus sebagai tanda-tanda bayi (anak umur 0–2 tahun) sedang stres. Tanda yang pertama bisa berwujud tingkah laku bayi yang jadi lebih rewel daripada biasa. Jika normalnya saat menangis lalu diberi susu diam, maka sekarang ia jadi cenderung tetap menangis meski susu sudah diberikan. Atau, jika biasanya setelah digendong menjadi tenang, sekarang mendadak tetap gelisah meski sang bunda, figur lekatnya sudah menimang. Tanda ketiga yang amat kentara jika bayi sedang stres ialah penurunan nafsu makan. Ini indikasi yang paling berbahaya, karena bisa berhubungan dengan masalah tumbuh kembang anak. 

Psikolog klinis dari RS Awal Bros, RA Oriza Sativa Psi menerangkan dapat berdampak buruk jika tidak tidak segera ditanganani. Stres sendiri memiliki pengertian, tekanan psikis berlebihan yang terjadi dan berada di luar batas kemampuan yang bersangkutan. Apabila terus didiamkan, akibatnya mereka malah bisa mengalami gangguan psikis lebih berat, seperti kecemasan atau depresi. Karenanya, orangtua harus jeli melihat perubahanperubahan yang dialami bayi. 


“Tanda-tanda stres sebenarnya mudah terdeteksi, jika si kecil tiba-tiba lebih reaktif ketimbang kondisi biasa. Hati-hati, jika kondisi ini terus dibiarkan, bayi akan lebih mudah sakit. Berat badannya turun dan sulit melakukan penyesuaian dengan lingkungan. Secara garis besar, proses tumbuh kembangnya jadi terhambat,” ujar Oriza. 

Dia mencontohkan, refleks bayi enam bulan biasanya sudah bagus. Dia bisa tertawa jika bertemu orang. Namun, jika anak Anda belum demikian di usia tersebut dan dia cenderung lebih sering menangis, sedikit-sedikit ngambek, bisa jadi itu ekspresi kondisi stres bayi. Orangtua yang bijak seharusnya sudah bisa mencurigai, emosi bayi yang meledak-ledak merupakan gejala stres.

Mengganggu Perkembangan Otak
Secara klinis penyebab stres bayi bisa dibagi dalam dua aspek. Yang pertama karena alasan fisik. Misalnya sedang tidak enak badan. Jika orang dewasa bisa langsung pergi ke dokter, maka bayi hanya mampu menangis. 


Kedua, akibat aspek psikis. Meski masih kecil, sejak usia 3 bulan, bayi sudah hafal orang-orang terdekatnya, seperti ayah dan ibu. Jika tiba-tiba terjadi perbedaan pola pengasuhan, misalnya karena si ibu tiba-tiba bekerja dan bayi dipegang baby sitter mereka bisa resah. Terlebih, jika ibu harus pergi dalam waktu lama. “Hal lain yang bisa memengaruhi adalah masalah adjustment. Misalnya ia sedang tumbuh gigi atau biasanya tidur pakai AC tiba-tiba tidak. Hal-hal semacam ini bisa membuat anak stres, yang efeknya terlihat seperti sering marah-marah sendiri,” tambahnya. 

Apakah stres berkepanjangan dapat mengganggu perkembangan kecerdasan otak anak? Menurut Oriza, hal itu berkaitan namun tidak secara langsung. Jika bayi rewel terus, tidurnya akan terganggu dan makannya berkurang. Hal itu selanjutnya akan mengganggu hormon pituitari menjalankan fungsinya dengan baik. “Otak manusia itu kan memiliki jaras-jaras. Sesuatu yang dapat membuat kita tambah pintar karena pertumbuhan miliaran sel di dalamnya. Ia berkembang saat kita tidur dengan durasi cukup dan mendapat asupan gizi seimbang. Nah, kalau kondisi si bayi rewel, susah tidur dan makan, pastinya akan mengganggu perkembangan otak, meskipun tidak secara langsung,” pungkasnya. (RA)

Mainan Terbaik Bagi si Upik

FIRMAN, 7 tahun, tergolek di Rumah Sakit M Djamil Padang, Sumatra Barat. Dunia yang benderang dan ceria seketika menjadi gelap dan muram. “Bocah ini terancam tak bisa melihat seumur hidup,” kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Hadi Supeno tentang mata kanan

Firman yang luka terkena peluru senjata mainan sebesar kacang kedelai beberapa waktu lalu.Firman hanyalah salah satu korban mainan anak-anak. KPAI mencatat ada 20 korban anak terluka akibat penyalahgunaan pistol mainan berpeluru plastik. Peredaran replika pistol anak-anak saat ini memang memprihatinkan. 

Di banyak negara maju, pemerintah menerapkan kebijakan yang amat keras menyangkut standarisasi keselamatan mainan anak. Di plastik pembungkus mainan, misalnya, tertera peringatan: this bag is not a toy. Hal ini efektif untuk membuat orang tua waspada, segera melepas plastik pembungkus mainan begitu barang yang dibeli sampai ke tangan si anak. 

Kelihatannya sepele, namun sebenarnya sangat penting. Bayangkan jika plastik ukuran besar itu dimasukkan si anak ke kepalanya saat dia bermain tanpa pengawasan orang tua. Tentu, nyawa si kecil bisa melayang karena kehabisan oksigen. Langkah pencegahan lain ialah memberi label kategori umur pada setiap mainan. Ini bisa mencegah orang tua membelikan mainan yang tidak sesuai dengan umur anak. Melatih EQ dan IQ.


Bagaimana cara memilih mainan yang tepat untuk anak? Menurut RA Oriza Sativa, psikolog klinis dari RS Awal Bros, Bekasi, Jawa Barat, mainan yang baik ialah yang memiliki fungsi positif dan memenuhi tiga syarat utama, yakni menghibur, mendidik, dan sesuai dengan tumbuh kembang anak. 

Menghibur, artinya mampu menciptakan ekspresi emosi positif seperti tertawa dan gembira. Mendidik, maksudnya mainan itu harus mampu meningkatkan kecerdasan emosional (EQ) dan intelegensi (IQ). “Dari sisi EQ mainan harus mampu memicu anak berempati, bekerja sama, berimajinasi, melatih ketekunan, dan kesabaran. Adapun dari sisi IQ, mainan yang baik bisa meningkatkan kecermatan, ketelitian, berpikir analitis dan problem solving,” ujar Oriza. 


Mainan juga harus sesuai tumbuh kembang anak, yakni ada keselarasan antara usia kronologis dengan target umur mereka. Misalnya, anak 0-3 tahun, titik beratkan pada permainan yang memicu multisensor, semacam meraba, mendengar, dan melihat. Hal ini penting untuk mengaktifkan alat pancaindra dan mengembangkan fungsi motorik kasar, seperti berjalan, melompat, berlari, dan melempar. Untuk anak 3 – 5 tahun, fokuskan pada permainan yang mengasah kepekaan emosi dan motorik halus. Sebab pada tahap ini, anak sedang mengembangkan tahap prososial, alias senang bergaul dengan teman sebaya. Ajak mereka berkemah, mewarnai, atau melakukan ativitas menempel, dan menggunting. 

Adapun untuk anak 5 tahun hingga remaja, permaian yang pas ialah yang menitikberatkan pada aspek kecerdasan intelektual. Diharapkan, dengan model permainan macam ini, anak dapat berpikir kompleks hingga di masa depan mereka dapat memecahkan masalah-masalah sulit dalam kehidupan. Contoh mainan yang dimaksud adalah puzzle, monopoli, atau rubiK. 

“Jadi intinya, mainan ideal adalah mainan yang tidak membahayakan keselamatan, misalnya mengandung konten racun, tajam, atau terlalu keras. Kemudian sesuai dengan kondisi keuangan orangtua, serta sesuai dengan konteks sosial budaya,” pungkas psikolog klinis itu.

Mengendus Kapasitas Otak dengan Sidik Jari

TUHAN menunjukkan kekuasaan dan kebesaran-Nya dengan begitu unik. Pada tubuh manusia, misalnya, Tuhan Sang Maha Pencipta 'mencetak' sidik jari dalam kondisi sangat unik dan berbeda satu sama lain. S

Setiap manusia, termasuk yang terlahir kembar identik sekalipun, memiliki pola sidik jari yang unik dan khas. Dari miliaran manusia yang terlahir dan pernah mendiami planet bumi ini, tidak satu pun punya pola sidik jari sama. Karena itu, para ahli menggunakan guratan di ujung jari itu sebagai tanda pengenal paling valid yang membedakan seseorang dengan lainnya. Caranya, pola sidik jari itu diberi kode layaknya sistem kode garis (barcode) yang biasa digunakan untuk menandai suatu produk.

Sidik jari biasanya dipergunakan untuk data pribadi atau perorangan dalam pembuatan surat-surat identitas, seperti kartu tanda penduduk (KTP), surat izin mengemudi (SIM), dan paspor. Adapun polisi menggunakan sidik jari untuk mengungkap identitas korban kejahatan yang tidak dikenal dan menelusuri pelaku kejahatan yang masih misterius.

Tes Dermatoglyphics pada 1823, para ilmuwan menemukan relevansi sidik jari dengan multiple intelligence dalam manusia. Sejak itu, berkembanglah penerapan metode dermatoglyphics, ilmu tentang sidik jari. Barat menggunakan dermatoglyphics untuk bidang kedokteran dan kriminologi, sedangkan Timur menggunakannya untuk bidang pendidikan dalam mengembangkan potensi sumber daya manusia.

Hasil penelitian medis menunjukkan pembentukan sidik jari dimulai pada pekan ke-13 tahap pembentukan janin dan selesai pada pekan ke-19 usia kehamilan. Perkembangan sidik jari dan otak di dalam rahim ibu memiliki kaitan langsung. Setiap jari mewakili bagian tertentu dari otak kita. Misalnya: index = post-frontal (berpikir), tengah = parietalis (gerakan).


Leonardus Eko Widjajanto, Executive Director dan COO Brain Child Learning (BCL) Indonesia menjelaskan para ahli dermatoglyphics dan neuro-anatomi (kedokteran anatomi tubuh) menemukan fakta bahwa pola sidik jari bersifat genetis. Pola guratan-guratan kulit pada sidik jari yang dikenal sebagai garis epidermal, memiliki korelasi dengan sistem hormon pertumbuhan pada sel otak. Dia menegaskan tes dermatoglyphics memberikan akurasi hingga 95 persen untuk menilai karakteristik dan potensi otak seseorang. Hasil tes dermatoglyphics menjadi panduan penting bagi orang tua dan guru untuk pengembangan dan pembimbingan anak ke arah tepat sesuai dengan kekuatan bawaan mereka.


Sementara itu, Jason Theo dari BCL pusat di Singapura, mengatakan metode tes sidik jari BCL dikembangkan oleh Prof Roger Liem dari Taiwan. Prof Liem membawa hasil penelitiannya di Havard University dan diperkenalkan di Taiwan dan Singapura. Dia mematenkan metode tes dermatoglyphics MyDNA di Amerika Serikat.


Dia menjelaskan, ada empat jenis sidik jari. Pertama, whorl (W). Anak bersidik jari jenis ini punya sifat ingin tahu, puas dengan alasan, ketika setuju dan percaya akan melakukan sedikit atau setahap pekerjaan saja, berorientasi pada tujuan, keras kepala, dan cenderung menciptakan sistem sendiri.


Kedua, ulnar loop (U). Mereka yang masuk kategori jenis ini memiliki sifat sangat patuh dan peka, pandai menyalin atau meniru, mudah dipengaruhi lingkungan, cepat akrab, ramah, kooperatif, dan cenderung taat sistem.


Ketiga, radial loop (R). Pemilik sidik jari jenis ini cenderung memiliki pola pemikiran yang terbalik, model pemikiran yang tidak umum, menggunakan salah satu kepentingan sebagai pedoman ketika melakukan pekerjaan (bukan semata-mata logis atau alasan praktis), sangat setia kepada teman, cara mengekspresikan diri lebih unik dan sulit mengungkapkan cinta dalam hatinya.


Keempat, arch (A). Orang yang punya sidik jari jenis ini dikenal sebagai genius print, yang memiliki potensi petidak terbatas. Mereka mempelajari sesuatu sampai paham betul. Namun, mereka lebih terpengaruh emosi, lebih konservatif, tidak menyukai perubahan, dan protektif.


Leonardus memaparkan tes sidik jari juga bisa mendeteksi cara anak memahami sesuatu. Ada anak yang bisa cepat menangkap pelajaran sembari banyak bergerak atau kinestetik. Lalu ada anak yang gampang belajar dengan mendengar atau auditory. Ada pula anak yang mudah memahami suatu materi dengan visual atau melalui gambar.


Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Lydia Freyani mengatakan, sidik jari ini bukan hanya dilakukan untuk melihat bakat dan kecerdasan anak saja, tetapi juga bisa digunakan untuk orang dewasa untuk melihat bakat dan karier yang cocok untuk mereka. “Kita dengan cepat dapat mengetahui bakat dan kecerdasan yang dimiliki anak kita. Tingkat kecerdasan anak dapat diketahui lebih cepat dari sidik jarinya,” kata Profesor Lydia.